MAKNA PENTAKOSTA PADA ABAD PERTAMA


PENDAHULUAN
PENTAKOSTA – ROH KUDUS
            “Adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami!” (Kisah Para Rasul 15:28). Kalimat ini dengan jelas menunjukan kenyataan Roh Kudus dan hubungan pribadi antara Roh Kudus dengan orang percaya pada abad pertama!. Peristiwa ini terjadi dalam persidangan Yerusalem, mursyawarah pertama dari Gereja mula-mula. Satu persoalan telah timbul, bagaimana orang-orang percaya bangsa Yahudi dapat bersekutu bersama dengan orang Kristen  bukan Yahud yang tidak sunat, yang makan-makanan haram, dan berasal dari kebudayaan Yunani yang asusila pada waktu itu?. Para rasul, penatua, dan sejumlah besar orang percaya telah berkumpul untuk memecahkan persoalan itu. Kesadaran akan realitas Roh Kudus meliputi seluruh Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu. Yesus Kristus adalah tokoh utama dalam seluruh rencana Allah. Roh Kudus sendiri memusatkan perhatian pada Kristus dan selalu memuliakan Dia (Yoh. 15:26, 16:14) tetapi ini tidaklah berarti bahwa Roh Kudus diabaikan didalam Alkitab atau bahwa Dia dianggap sebagai pengaruh yang samar-samar atau kekuatan yang tidak kelihatan. Roh Kudus diakui sebagai Pribadi yang nyata, yang berakal, berperasaan, berkehendak, dan berkuasa. Perjanjian Baru tidak mengira-ngira tentang kenyataan dan kepastian pekerjaan Roh Kudus, untuk kepentingan Yohanes pembaptis, Roh Kudus turun atas Yesus dalam bentuk yang kelihatan yaitu seekor burung merpati, bunyi angin dan lidah api memberitakan kehadairan-Nya pada hari Pentakosta.
Pada tiga kesempatan dicatat dengan khusus bahwa orang-orang percaya berkata-kata dengan Bahasa Roh (Kisah Rasul 2:4, 10:46, 19:6) sekali tempat mereka bergoyang (Kisah Rasul 4:31), lalu mereka semua memberitakan Firman Allah dengan berani. Penghiburan (dorongan)dari Roh Kudus merupakan factor yang sangat penting dalam pertumbuhan Gereja mula-mula (Kisah Rasul 9:31). Roh Kudus memberikan kehangatan, semangat, dan kegembiraan yang menandai seluruh gerakan pekabaran Injil dalam abad pertama.
Setiap bagian kehidupan sehari-hari orang percaya, termasuk pekerjaan dan ibadah mereka, dipersembahkan kepada Kristus Yesus Tuhan nya dan dituntun langsung oleh Roh Kudus. Tentu saja, ini tidak berarti bahwa akan dan pikiran mereka sendiri disingkirkan, atau bahwa mereka hanya bertindakn dengan perasaan hati saja. Memang, oerasaan hati mempunyai “tenpat penting” bagi mereka. Dewasa ini, hal ini dikurang dihargai karena banyak orang Kristen secara berlebih-lebihan mengutamakan intelektualitas. Namun demikian Gereja mula-mula diharapakn untuk menyelidiki Kitab suci, menerima bukti-bukti yang masuk akal, dan menjadi orang dewasa (matang) dalam pengertian (pemikiran) mereka. (1 Korintus 14:20, Kisah Rasul 17:11, 28:23). Sekalipun demikian, keseluruhan kehidupan dan ibadah Kristen mereka melebihi hal-hal yang wajar dan manusiawi. Sifat adikrodrati mewarnai seluruh pengalaman mereka. Dalam kehidupan sehari-hari,mereka tidak mencoba melakukan beberapa hal pada tingkat manusia dan beberapa tingkat Roh. Sifat-sifat yang mereka butuhkan agar dapat bekerja sama dan menjadi saksi melalui kehidupan mereka bukanlah sifat-sifat menusiawi yang biasa, tetapi adalah buah Roh (Galatia 5:22-23). Berawal dari kedatangan Tuhan Yesus dan memanjang hingga akhir sejarah merupakan masa Roh Kudus. Sebagai masa keselamatan, masa ini ditandai dengan karya Roh Kudus. Melalui karya-Nya hubungan Allah dengan manusia, serta hubungan manusia sendiri dengan Allah, dapat dipahami dan dihayati. Roh Kudus juga membimbing gereja dalam segala bentuk perjumpaanya dengan pengalaman-pengalaman, bahasa baru, serta pemikiran yang baru seperti dijaman Pentakosta abad pertama di Yerusalem. Peristiwa ini juga menjadi ajang atau arena pengungkapan historis dan karya Roh Kudus dalam konteks dan situasi budaya yang sedang berubah,


ISI
MAKNA PERISTIWA PENTAKOSTA TERHADAP PEKABARAN INJIL ABAD PERTAMA
            Sejak Roh Kudus dicurahkan kepada murid-murid Yesus di abad pertama Masehi, kekristenan berkembang dengan pesat hingga saat ini. Roh Kudus mengambil peran yang sangat signifikan bagi perkembangan Gereja Tuhan di seluruh dunia.Untuk mengetahui peranan Roh Kudus di dalam perkembangan Gereja, maka kita harus memahami makna dan tujuan dicurahkannya Roh Kudus, yang terjadi kurang lebih dua ribu tahun yang lalu di Yerusalem. Bagi orang Yahudi, hari raya Pentaskosta adalah hari raya terpenting kedua sesudah Paskah, karena Paskah adalah hari di mana umat Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir.
Bagi orang Israel, hari raya Pentakosta diperingati sebagai hari diturunkannya Sepuluh Perintah Allah kepada bangsa Israel di kaki gunung Sinai, tepatnya pada hari kelima puluh sesudah mereka keluar dari Mesir. Sejak pembebasan dari Mesir sampai kepada zaman sekarang, bangsa Israel memperingati hari raya Pentakosta sebagai sebuah peringatan untuk membawa persembahan sulung dalam satu tahun untuk diberikan kepada Tuhan sambil memperingati diberikannya Sepuluh Perintah Allah kepada mereka. Sementara itu, bagi kalangan umat Kristen, hari raya Pentakosta memiliki makna yang lain, yakni hari dicurahkannya Roh Kudus kepada murid-murid Yesus. Hari raya Pentakosta juga diperingati sebagai hari lahirnya Gereja. Kronologis pencurahan Roh Kudus kepada murid-murid Yesus terjadi tepat lima puluh hari sesudah Paskah Kebangkitan (Paskah hari Minggu sesudah Jumat Agung), atau sepuluh hari sesudah Yesus terangkat ke sorga.
Ketika Roh Kudus menyakinkan dan menyadarkan orang-orang yang mendengarkan Petrus mereka bertanya “Apakah yang harus kami perbuat?” jawaban Petrus juga termasuk ucapan nubuatan Roh dalam bentuk nasehat, “Bertobatlah (ubahlah pikiran dan sikap dasarmu terhadap dosa, kebenaran, dan penghakiman) dan hendaklah kamu masing-masing memberimu dibaptis dalam nama  (atas kekuasaan) Yesus Kristus (sebagaimana dinyatakan dalam Matius 28:19) untuk (oleh karena) pengampunan dosa, maka kamu akan menerima (mengambil ) karunia Roh Kudus (Kisah Rasul 2:38)”. Ingatlah, baptisan dalam air merupakan kesaksian, suatu pernyataan mengenai apa yang telah terjadi didalam batin kita. Baptisan itu tidak menghasilkan atau mengadakan pengampunan dosa. Ungkapan ini dalam bahasa Yunani sama dengan baptisan Yohanes “sebagai tanda pertobatan” (Matius 3:11). Jadi, seruan Petrus ialah agar pertama-tama mereka bertobat, artinya mengubah pikiran mereka dari tidak percaya menjadi percaya. Sebab mereja percaya, maka mereka dibasuh dan diampuni. Batpisan air menyatakan persamaan mereka dengan Kristus dalam kematian-nya (Roma 6:3). Kemudian, hal yang berikutnya dalam urutan yang normal adalah menerima (betul-betul aktif mengambil) karunia atau baptisan dalam Roh Kudus.
            Mulai dari Pentakosta selanjutnya kita mulai melihat Roh Kudus aktif dalam kehidupam Gereja, dalam member pengajaran, melakukan mujizat-mujiza, memenuhi dan membaptis orang-orang yang baru diselamatkan, tetapi terutama dalam pekerjaan menyebarkan Injil dan menughkan Gereja. Bukti pertama tentang adanya kelanjutan pekerjaan Roh Kudus adalah bahwa Ia member kemampuan kepada murid-murid itu untuk menjadikan mereka orang Pengikut Kristus , murid-murid yang sesungguhnya dari jumlah 3000 orang bertobat pada zaman abad pertama. Pemuridan ini dikembangkan melalui beberapa jenis pengalaman belajar. Mereka menggunakan banyak waktu dalam pengajaran rasul-rasul, dalam persekutuan, dalam memcahkan roti, dalam berdoa (Kisah Rasul 2:42). Sebagaimana ini dilakukan dalam Bait Allah, sebab orang-orang percaya itu dengan sehati menghabiskan banyak waktunya ditemnpat ini (Kisah Rasul 2:46), dan setiap hari rasul-rasul itu berada disana untuk mengajar dan meberitakan Kabar Baik (Injil) tentang Kristus. Rasul-rasul itu juga mengerjakan hal yang sama setiap hari dari rumah kerumah (Kisah Rasul 5:42).
            Bagaimana juga, pengajaran para rasul itu tidak bersifat teori saja. Roh Kuduslah yang sebenarnya menjadi Guru. Ia menggunakan pengajaran lebenaran itu untuk membawa mereka semua kedalam persekutuan yang semakin meningkat, tidak hanya diantara satu sama lain, tetapi yang terutama persekutuan dengan Bapa dan Anak (1 Yohanes 1:3,7; 1 Korintus 1:9). Persekutuan itu juga merupakan bersama-sama menikmati hal-hal rohani, persekutuan Roh Kudus (2 Korintus 13:13; Filipi 2:1). Hal ini mungkin telah menyangkutkan mengambil bagian bersama-sama dalam Perjamuan Tuhan. Tetapi, yang ditekankan disini bukan upcara gereja, akibat pekerjaan Roh Kudus adalah membawa orang-orang kedalam persekutuan yang baru dimana mereka menjadi sehati dan sepikir (Kisah Rasul 4:32). Sebagian besar ini berlangsung pada waktu makan bersama-sama, sedang mereka berkumpul mengelilingi meja makan dalam rumah mereka untuk memecahkan roti, mereka membagi-bagikan makanan dengan sukacita yang berlimpah-limpah dan dengan hati yang polos, memuji Tuhan dan mereka disukai banyak orang Yahudi di Yerusalem (Kisah Rasul 2:46-47). Tidak heran kalau setiap hari Tuhan menambha jumlah orang yang diselamatkan. Waktu doa juga menandai kemuridan mereka. Secara teratur mereka ada dibait suci untuk doa pagi dan petang. Waktu, kadang-kadang waktu yang diperpanjangkan, dihabiskan untuk berdoa bila mereka menghadapi pertentangan bahaya (Kisah Rasul 2:42; 4:24-30; 12:5,12).
            Mujizat-mujizat menguatkan orang percaya, sebagai tanda yang menunjukan kepada kodrat dan kuasa Yesus dan sebagai tanda ajaib yang meminta perhatian orang pada Kristus yang ada ditengah-tengah mereka. Mujizat-mujizat itu menyebabkan rasa takut, rasa kagum, dan hormat pada sekitar mereka (Kisah Rasul 2:43). Tetapi kuasa Roh Kudus yang dinyatakan dalam pengajaran dan persekutuan, dan kuasa Roh yang tampak dalam mujizat-mujizat merupakan bagian dari satu kehidupan dalam Roh. Orang-orang percaya itu tidak menganggap diri mereka sedang hidup pada dua taraf, yang satu tara rohani, dan yang lain tarif jasmani. Roh Kudus merembes keseluruh hidup mereka. Penyembahan, persekutuan dengan Allah, dan persekutuan dalam hal yang praktis, penginjilan, dan mujizat-mujizat merupakan bagian dari pengalaman dalam Roh Kudus.
Pekerjaan Roh Kudus  dalam kelompok yang lebih besar mendorong pekerjaan Roh Kudus dalam kelompok-kelompok kecil di berbagai rumah. Tetapi keperluan-keperluan dan bahaya-bahaya yang sama mempersatukan mereka kembalin dalam kelompok yang lebih besar. Kesaksian dalam bait suci sangat diperlukan. Demikian juga kesaksian dalam kelompok-kelompok yang berkumpul dalam rumah-rumah.
Dari mulai pertama, Roh Kudus nmenolong mereja untuk memelihara keseimbangan sehingga mereka tidak terjerumus kedalam tata cara yang kosong. Kisah Para Rasul 4:31 berkata, “Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.”Kisah pencurahan Roh Kudus yang dicatat di Kisah Para Rasul 4:31 ini adalah pencurahan Roh Kudus yang berikutnya sesudah pencurahan  ulang dicurahkan kepada setiap orang percaya. Dengan kata lain, pencurahan Roh Kudus bukanlah sebuah peristiwa satu kali saja, tetapi bisa berulang-ulang dialami.Tujuan diatas dari pencurahan Roh Kudus adalah untuk memberikan keberanian kepada setiap orang percaya, dan keberanian ini adalah keberanian untuk memberitakan Injil. Memang dalam memberitakan Injil diperlukan keberanian untuk menyampaikannya kepada orang lain, karena tidak semua orang percaya mempunyai karakter atau kepribadian yang berani. Lihat bagaimana Roh Kudus memperlengkapi Petrus, dari seorang penyangkal Kristus lalu menjadi seorang pengkhotbah yang luar biasa. Lukas 24:49 berkata, “Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.”
Lukas 24:49 mencatat perkataan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya, di mana Ia berjanji untuk mengirim apa yang telah dijanjikan Bapa di sorga, yakni keturunan Israel akan mendapat Roh Allah. Tujuan ini dari pencurahan Roh Kudus adalah untuk memperlengkapi murid-murid Yesus dalam memberitakan Injil kepada orang banyak. Yang dimaksud dengan “Injil” adalah kabar keselamatan di dalam Yesus Kristus. Berita Injil ini harus disebarkan kepada sebanyak-banyaknya orang dan Tuhan Yesus tidak hanya sekedar memberi perintah kepada murid-murid-Nya saja untuk memberitakan Injil, tetapi Ia juga memperlengkapi mereka dengan kuasa Roh Kudus.
Kuasa Roh Kuduslah yang memampukan murid-murid Yesus untuk memberitakan Injil penuh dengan kuasa dari sorga, sehingga di mana mereka memberitakan Injil di sana ada tanda-tanda mujizat menyertai mereka.  Kisah Para Rasul 10:45 berkata, “Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga.” Kisah Para Rasul mencatat bahwa orang-orang di luar etnis Yahudi, mendapatkan pencurahan Roh Kudus sama seperti mereka mendapatkannya. Di sinilah mereka mulai menyadari bahwa siapa saja yang menereima Yesus akan mendapatkan pencurahan Roh Kudus, sehingga tidak ada lagi perbedaan antara orang Yahudi dengan orang-orang non-Yahudi. Pentakosta menjadi pemecah tembok-tembok pemisah etnis dan ras di seluruh dunia. Karena Injil, semua orang menjadi satu kesatuan umat warga Kerajaan Allah. 

 PENUTUP DAN KESIMPULAN
     Tuhan Allah ingin memperlengkapi kita dengan Roh Kudus, dan perlengkapan Roh Kudus ini bukan berarti tanpa sebuah tujuan, melainkan Tuhan ingin kita bisa memberitakan Injil kepada orang lain.
Roh Kudus diberikan Tuhan Allah untuk memperlengkapi kita melakukan penyebaran Injil. Maka dari itu, marilah kita semua mulai memberitakan Injil (kabar keselamatan di dalam Yesus) kepada sebanyak-banyaknya orang, sehingga seluruh orang di dunia ini menjadi umat Tuhan.
Dan sangat penting bagi setiap orang percaya untuk dipenuhi Roh Kudus, dengan penuhnya Roh Kudus kita dapat berani dan bersaksi untuk memberitakan Kabar Baik (Injil). Dengan kita intim dengan Tuhan, lakukan pujian penyembahan, membaca firman dan melakukan setiap firman-Nya, ketika kita sungguh-sungguh melakukannya maka Roh Kudus akan memenuhi kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Quarter Life Crisis

Teologi Calvinis